Halaman

Sabtu, 03 September 2011

BARZANJI KITAB INDUK MAULUD NABI SAW



SEPUTAR KITAB BARZANJI
Secara umum peringatan maulud Nabi Shallallahu alaihi wa sallam selalu
disemarakkan dengan shalawatan dan puji-pujian kepada Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam, yang mereka ambil dari kitab Barzanji
maupun Daiba, ada kalanya ditambah dengan senandung qasidah Burdah.
Meskipun kitab Barzanji lebih populer di kalangan orang awam daripada
yang lainnya, tetapi biasanya kitab Daiba, Barzanji dan Qasidah Burdah
dijadikan satu paket untuk meramaikan maulid Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam yang diawali dengan membaca Daiba, lalu Barzanji, kemudian
ditutup dengan Qasidah Burdah. Biasanya kitab Barzanji menjadi kitab
induk peringatan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan
sebagian pembacanya lebih tekun membaca kitab Barzanji daripada membaca
al-Qur'an. Maka tidak aneh jika banyak di antara mereka yang lebih
hafal kitab Barzanji bersama lagu-lagunya dibanding al-Quran. Fokus
pembahasan dan kritikan terhadap kitab Barzanji ini adalah karena
populernya, meskipun penyimpangan kitab Daiba lebih parah daripada
kitab Barzanji. Berikut uraiannya :

Secara umum kandungan kitab Barzanji terbagi menjadi tiga :
1). Cerita tentang perjalanan hidup Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
dengan satra bahasa tinggi yang terkadang tercemar dengan
riwayat-riwayat lemah.
2). Syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam dengan bahasa yang sangat indah, namun telah tercemar dengan
muatan dan sikap ghuluw (berlebihan).
3). Shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi telah
bercampur aduk dengan shalawat bid'ah dan shalawat-shalawat yang tidak
berasal dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

PENULIS KITAB BARZANJI
Kitab Barzanji ditulis oleh Ja'far al-Barjanzi al-Madani, dia adalah
khathib di Masjidilharam dan seorang mufti dari kalangan Syafi'iyyah.
Wafat di Madinah pada tahun 1177H/1763 M dan di antara karyanya adalah
Kisah Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.[1]

Sebagai seorang penganut paham tasawwuf yang bermadzhab Syiah tentu
Ja'far al-Barjanzi sangat mengkultuskan keluarga, keturunan dan Nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini dibuktikan dalam doanya
“Dan berilah taufik kepada apa yang Engkau ridhai pada setiap kondisi
bagi para pemimpin dari keturunan az-Zahra di bumi Nu'man.[2]

KESALAHAN UMUM KITAB BARZANJI
Kesalahan kitab Barzanji tidaklah separah kesalahan yang ada pada kitab
Daiba` dan Qasidah Burdah. Namun, penyimpangannya menjadi parah ketika
kitab Barzanji dijadikan sebagai bacaan seperti al-Qur'an. Bahkan,
dianggap lebih mulia dari pada Al Qur'an. Padahal, tidak ada nash
syar'i yang memberi jaminan pahala bagi orang yang membaca Barzanji,
Daiba` atau Qasidah Burdah. Sementara, membaca al-Qur'an yang jelas
pahalanya, kurang diperhatikan. Bahkan, sebagian mereka lebih sering
membaca Barzanji daripada membaca al-Qur'an apalagi pada saat perayaan
maulîd Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:

Artinya : Barang siapa membaca satu huruf dari Al-Qur'an maka dia akan
mendapatkan satu kebaikan yang kebaikan tersebut akan dilipatgandakan
menjadi 10 pahala. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf. Akan
tetapi, Alif satu huruf, lam satu huruf mim satu huruf.[3]

KESALAHAN KHUSUS KITAB BARZANJI
Adapun kesalahan yang paling fatal dalam kitab Barzanji antara lain:

Kesalahan Pertama
Penulis kitab Barzanji meyakini melalui ungkapan syairnya bahwa kedua
orang tua Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam termasuk ahlul Iman
dan termasuk orang-orang yang selamat dari neraka bahkan ia
mengungkapkan dengan sumpah.

Dan sungguh kedua (orang tuanya) demi Allah Azza wa Jalla termasuk ahli
iman dan telah datang dalil dari hadits sebagai bukti-buktinya.

Banyak ahli ilmu yang condong terhadap pendapat in,i maka ucapkanlah salam
karena sesungguhnya Allah Maha Agung.

Dan sesungguhnya Imam al-Asy'ari menetapkan bahwa keduanya selamat menurut nash
tibyan (al-Qur'an).[4]

Jelas, yang demikian itu bertentangan dengan hadits dari Anas
Radhiyallahu 'anhu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki bertanya:
Wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, di manakah ayahku
(setelah mati)? Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Dia
berada di Neraka. Ketika orang itu pergi, beliau Shallallahu alaihi wa
sallam memanggilnya dan bersabda: Sesungguhnya bapakku dan bapakmu
berada di Neraka[5]

Imam Nawawi rahimahullah berkata: Makna hadits ini adalah bahwa
barangsiapa yang mati dalam keadaan kafir, ia kelak berada di Neraka
dan tidak berguna baginya kedekatan kerabat. Begitu juga orang yang
mati pada masa fatrah (jahiliyah) dari kalangan orang Arab penyembah
berhala, maka ia berada di Neraka. Ini tidak menafikan penyampaian
dakwah kepada mereka, karena sudah sampai kepada mereka dakwah nabi
Ibrahim Alaihissalam dan yang lainnya.[6]

Semua hadits yang menjelaskan tentang dihidupkannya kembali kedua orang
tua Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan keduanya beriman serta
selamat dari neraka semuanya palsu, diada-adakan secara dusta dan lemah
sekali serta tidak ada satupun yang shahih. Para ahli hadits sepakat
akan kedhaifannya seperti Daruquthni al-Jauzaqani, Ibnu Syahin,
al-Khathib, Ibnu Ashakir, Ibnu Nashr, Ibnul Jauzi, as-Suhaili,
al-Qurthubi, at-Thabari dan Fathuddin Ibnu Sayyidin Nas.[7]

Adapun anggapan bahwa Imam al-Asyari yang berpendapat bahwa kedua orang
tua Nabi Shallallahu alaihi wa sallam beriman, harus dibuktikan
kebenarannya. Memang benar, Imam as-Suyuthi rahimahullah berpendapat
bahwa kedua orang tua Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam beriman dan
selamat dari neraka, namun hal ini menyelisihi para hafidz dan para
ulama peneliti hadits.[8]

Kesalahan Kedua
Penulis kitab Barzanji mengajak para pembacanya agar mereka menyakini
bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hadir pada saat membaca
shalawat, terutama ketika Mahallul Qiyam (posisi berdiri), hal itu
sangat nampak sekali di awal qiyam (berdiri) membaca:

Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek
Husain selamat datang.

Bukankah ucapan selamat datang hanya bisa diberikan kepada orang yang
hadir secara fisik?. Meskipun di tengah mereka terjadi perbedaan,
apakah yang hadir jasad nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersama ruhnya ataukah ruhnya saja. Muhammad Alawi al-Maliki (seorang
pembela perayaan maulid-red) mengingkari dengan keras pendapat yang
menyatakan bahwa yang hadir adalah jasadnya. Menurutnya, yang hadir
hanyalah ruhnya.

Padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah berada di alam
Barzah yang tinggi dan ruhnya dimuliakan Allah Azza wa Jalla di surga,
sehingga tidak mungkin kembali ke dunia dan hadir di antara manusia.

Pada bait berikutnya semakin jelas nampak bahwa Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam diyakini hadir, meskipun sebagian mereka meyakini
yang hadir adalah ruhnya.

Wahai Nabi salam sejahtera atasmu, wahai Rasul salam sejahtera atasmu
Wahai kekasih salam sejahtera atasmu, semoga rahmat Allah tercurah atasmu.

Para pembela Barzanji seperti penulis Fikih Tradisionalis berkilah,
bahwa tujuan membaca shalawat itu adalah untuk mengagungkan nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Menurutnya, salah satu cara
mengagungkan seseorang adalah dengan berdiri, karena berdiri untuk
menghormati sesuatu sebetulnya sudah menjadi tradisi kita. Bahkan tidak
jarang hal itu dilakukan untuk menghormati benda mati. Misalnya, setiap
kali upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin, setiap tanggal 17
Agustus, maupun pada waktu yang lain, ketika bendera merah putih
dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan, seluruh peserta upacara
diharuskan berdiri. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghormati
bendera merah putih dan mengenang jasa para pejuang bangsa. Jika dalam
upacara bendera saja harus berdiri, tentu berdiri untuk menghormati
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih layak dilakukan, sebagai
ekspresi bentuk penghormatan kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Bukankah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah
manusia teragung yang lebih layak dihormati dari pada orang lain?[9]

Ini adalah qiyas yang sangat rancu dan rusak. Bagaimana mungkin
menghormati Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam disamakan dengan hormat
bendera ketika upacara, sedangkan kedudukan beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam sangat mulia dan derajatnya sangat agung, baik saat hidup
atau setelah wafat. Bagaimana mungkin beliau disambut dengan cara
seperti itu, sedangkan beliau berada di alam Barzah yang tidak mungkin
kembali dan hadir ke dunia lagi. Disamping itu, kehadiran Rasul
Shallallahu 'alaihi wa sallam ke dunia merupakan keyakinan batil karena
termasuk perkara ghaib yang tidak bisa ditetapkan kecuali berdasarkan
wahyu Allah Azza wa Jalla, dan bukan dengan logika atau qiyas. Bahkan,
pengagungan dengan cara tersebut merupakan perkara bid'ah. Pengagungan
Nabi terwujud dengan cara menaatinya, melaksanakan perintahnya,
menjauhi larangannya, dan mencintainya.

Melakukan amalan bid'ah, khurafat, dan pelanggaran, bukan merupakan
bentuk pengagungan terhadap Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Demikian juga dengan acara perayaan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam, dan perbuatan tersebut termasuk bid'ah yang tercela.

Manusia yang paling besar pengagungannya kepada Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam  adalah para sahabat Radhiyallahu 'anhum -semoga
Allah meridhai mereka- sebagaimana perkataan Urwah bin Mas'ud kepada
kaum Quraisy: Wahai kaumku.demi Allah, aku pernah menjadi utusan
kepada raja-raja besar, aku menjadi utusan kepada kaisar, aku pernah
menjadi utusan kepada Kisra dan Najasyi, demi Allah aku belum pernah
melihat seorang raja yang diagungkan oleh pengikutnya sebagaimana
pengikut Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam mengagungkan Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tidaklah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam meludah kemudian mengenai telapak tangan seseorang di antara
mereka, melainkan mereka langsung mengusapkannya ke wajah dan kulit
mereka. Apabila ia memerintahkan suatu perkara, mereka bersegera
melaksanakannya. Apabila beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu,
mereka saling berebut bekas air wudhunya. Apabila mereka berkata,
mereka merendahkan suaranya dan mereka tidak berani memandang langsung
kepadanya sebagai wujud pengagungan mereka[10]

Bentuk pengagungan para sahabat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam di atas sangat besar. Namun, mereka tidak pernah mengadakan
acara maulid dan kemudian berdiri dengan keyakinan ruh Rasul
Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang hadir di tengah mereka. Seandainya
perbuatan tersebut disyariatkan, niscaya mereka tidak akan
meninggalkannya.

Jika para pembela maulid tersebut berdalih dengan hadits Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam,Berdirilah kalian untuk tuan atau orang
yang paling baik di antara kalian [11], maka alasan ini tidak tepat.

Memang benar Imam Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa pada hadits di
atas terdapat anjuran untuk berdiri dalam rangka menyambut kedatangan
orang yang mempunyai keutamaan[12]. Namun, tidak dilakukan kepada orang
yang telah wafat meskipun terhadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Bahkan pendapat yang benar, hadits tersebut sebagai anjuran dan
perintah Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada orang-orang Anshar
Radhiyallahu 'anhum agar berdiri dalam rangka membantu Sa'ad bin Muadz
Radhiyallahu 'anhu turun dari keledainya, karena dia sedang luka parah,
bukan untuk menyambut atau menghormatinya, apalagi mengagungkannya
secara berlebihan[13].

Kesalahan Ketiga
Penulis kitab Barzanji mengajak untuk mengkultuskan Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam secara berlebihan dan menjadikan Nabi sebagai tempat
untuk meminta tolong dan bantuan sebagaimana pernyataannya.

Padamu sungguh aku telah berbaik sangka. Wahai pemberi kabar gembira wahai
pemberi peringatan.
Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku. Wahai pelindung dari neraka Sa'ir
Wahai penolongku dan pelindungku. Dalam perkara-perkara yang sangat penting
(suasana susah dan genting)

Sikap berlebihan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
mengangkatnya melebihi derajat kenabian dan menjadikannya sekutu bagi
Allah Azza wa Jalla dalam perkara ghaib dengan memohon kepada beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan bersumpah dengan nama beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan sikap yang sangat dibenci
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan termasuk perbuatan
syirik. Do'a dan tindakan tersebut menyakiti serta menyelisihi petunjuk
dan manhaj dakwah beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan
menyelisihi pokok ajaran Islam yaitu tauhîd. Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam telah mengkhawatirkan akan terjadinya hal tersebut, sehingga
ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sakit yang membawa beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kematian, beliau bersabda:
“Janganlah kamu berlebihan dalam mengagungkanku sebagaimana kaum
Nasrani berlebihan ketika mengagungkan Ibnu Maryam. Aku hanyalah
seorang hamba, maka katakanlah aku adalah hamba dan utusan-Nya.[14]

Telah dimaklumi, bahwa kaum Nasrani menjadikan Nabi Isa Alaihissalam
sebagai sekutu bagi Allah Azza wa Jalla dalam peribadatan mereka.
Mereka berdoa kepada Nabi-nya dan meninggalkan berdoa kepada Allah Azza
wa Jalla, padahal ibadah tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah
Azza wa Jalla. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan
peringatan kepada umatnya agar tidak menjadikan kuburan beliau sebagai
tempat berkumpul dan berkunjung, sebagaimana dalam sabdanya Shallallahu
'alaihi wa sallam : Janganlah kamu jadikan kuburanku tempat berkumpul,
bacalah salawat atasku, sesunggguhnya salawatmu sampai kepadaku
dimanapun kamu berada.[15]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan peringatan keras kepada
umatnya tentang sikap berlebihan dalam menyanjung dan mengagungkan
beliau Shallallahu 'alaihi wa salllam. Bahkan, ketika ada orang yang
berlebihan dalam mengagungkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
mereka berkata: Engkau Sayyid kami dan anak sayyid kami, engkau orang
terbaik di antara kami, dan anak dari orang terbaik di antara kami,
maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:
Katakanlah dengan perkataanmu atau sebagiannya, dan jangan biarkan
syaitan menggelincirkanmu.[16]

Termasuk perbuatan yang berlebihan dan melampui batas terhadap Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bersumpah dengan nama beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena sumpah adalah bentuk pengagungan
yang tidak boleh diberikan kecuali kepada Allah Azza wa Jalla. Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa bersumpah
hendaklah bersumpah dengan nama Allah Azza wa Jalla, jikalau tidak bisa
hendaklah ia diam.[17]

Cukuplah dengan hadits tentang larangan bersikap berlebihan dalam
mengagungkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi dalil yang
tidak membutuhkan tambahan dan pengurangan. Bagi setiap orang yang
ingin mencari kebenaran, niscaya ia akan menemukannya dalam ayat dan
hadits tersebut, dan hanya Allah-lah yang memberi petunjuk.

Kesalahan Keempat
Penulis kitab Barzanji menurunkan beberapa shalawat bid'ah yang
mengandung pujian yang sangat berlebihan kepada Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam.

Para pengagum kitab Barzanji menganggab bahwa membaca shalawat kepada
nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan ibadah yang
sangat terpuji. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :


"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat
untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hai orang-orang yang beriman,
bershalawatlah kamu untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". [al-Ahzab/ 33:56]

Ayat ini yang mereka jadikan sebagai dalil untuk membaca kitab tersebut
pada setiap peringatan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Padahal, ayat di atas merupakan bentuk perintah kepada umat Islam agar
mereka membaca shalawat di manapun dan kapanpun tanpa dibatasi saat
tertentu seperti pada perayaan maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam.

Tidak dipungkiri bahwa bersalawat atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam terutama ketika mendengar nama Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam disebut sangat dianjurkan. Apabila seorang muslim meninggalkan
salawat atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, ia akan terhalang dari
melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat, baik di dunia dan
akhirat, yaitu:

1). Terkena doa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu sabda beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam : Sungguh celaka bagi seseorang yang
disebutkan namaku di sisinya, namun ia tidak bersalawat atasku.[18]

2). Mendapatkan gelar bakhil dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Orang bakhîl adalah
orang yang ketika namaku disebut di sisinya, ia tidak bersalawat
atasku[19].

). Tidak mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah Azza wa
Jalla, karena meninggalkan membaca salawat dan salam atas Nabi n dan
keluarganya. Nabi n bersabda: "Barangsiapa membaca salawat atasku
sekali, maka Allah Azza wa Jalla bersalawat atasnya sepuluh kali.[20]
4). Tidak mendapatkan keutamaan salawat dari Allah Azza wa Jalla dan para
Malaikat.

Allah Azza wa Jalla berfirman:"Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan
malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu, supaya Dia mengeluarkan kamu
dari kegelapan kepada cahaya yang terang dan Dia Maha Penyayang kepada
orang-orang yang beriman" [Al-Ahzab/ 33:43]

Bahkan, membaca shalawat menjadi sebab lembutnya hati, karena membaca
shalawat termasuk bagian dari dzikir. Dengan dzikir, hati menjadi
tenteram dan damai sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :
Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah Azza wa Jalla. Ingatlah, hanya dengan mengingat
Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra'du/ 13:28). Tetapi dengan
syarat membaca shalawat secara benar dan ikhlas karena Allah Azza wa
Jalla semata, bukan shalawat yang dikotori oleh bid'ah dan khufarat
serta terlalu berlebihan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, sehingga bukan mendapat ketenteraman di dunia dan pahala di
akherat, melainkan sebaliknya, mendapat murka dan siksaan dari Allah
Azza wa Jalla. Siksaan tersebut bukan karena membaca shalawat, namun
karena menyelisihi sunnah ketika membacanya. Apalagi, dikhususkan pada
malam peringatan maulîd Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam saja, yang
jelas-jelas merupakan perayaan bid'ah dan penyimpangan terhadap Syariat.

Kesalahan Kelima
Penulis kitab Barzanji juga menyakini tentang Nur Muhammad Shallallahu
'alaihi wa sallam, sebagaimana yang terungkap dalam syairnya:

Nur Mustafa (Muhammad) terus berpindah-pindah dari sulbi yang bersih kepada yang
sulbi suci nan murni.

Bandingkanlah dengan perkataan kaum zindiq dan sufi, seperti al-Hallaj
yang berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki cahaya yang
kekal abadi dan terdahulu keberadaannya sebelum diciptakan dunia. Semua
cabang ilmu dan pengetahuan di ambil dari cahaya tersebut dan para Nabi
sebelum Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menimba ilmu dari cahaya
tersebut.

Demikian juga perkataan Ibnul Arabi Attha'i bahwa semua Nabi sejak Nabi
Adam Alaihissalam hingga Nabi terakhir mengambil ilmu dari cahaya
kenabian Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu penutup para
Nabi.[2]

Perlu kita diketahui bahwa ghuluw itu banyak sekali macamnya.
Kesyirikan ibarat laut yang tidak memiliki tepi. Kesyirikan tidak hanya
terbatas pada perkataan kaum Nasrani saja, karena umat sebelum mereka
juga berbuat kesyirikan dengan menyembah patung, sebagaimana perbuatan
kaum jahiliyah. Di antara mereka tidak ada yang mengatakan kepada Tuhan
mereka seperti perkataan kaum Nasrani kepada Nabi Isa Alaihissalam ,
seperti ; dia adalah Allah, anak Allah, atau menyakini prinsip trinitas
mereka. Bahkan mereka mengakui bahwa tuhan mereka adalah kepunyaan
Allah Azza wa Jalla dan di bawah kekuasaan-Nya. Namun mereka menyembah
tuhan-tuhan mereka dengan keyakinan bahwa tuhan-tuhan mereka itu mampu
memberi syafaat dan menolong mereka.

Demikian uraian sekilas tentang sebagian kesalahan kitab Barzanji, semoga
bermanfaat.[23]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1430H/2009M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_________
Footnote
[1]. Al-Munjid fil A'lam, 125
[2]. Majma'tul Mawalid, hal. 132.
[3]. HR.Tirmidzi dan dishahîhkan al Albâni di dalam shâhihul jam'i hadits
yang ke 6468
[4]. Lihat Majma'atul Mawalid Barzanji, hal. 101.
[5]. Shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (348) dan Abu Daud dalam
Sunannya (4718).
[6]. Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, 3/ 74.
[7]. Aunul Ma'bud, Abu Thayyib (12/ 324)
[8]. Aunul Ma'bud, Abu Thayyib (12/ 324)
[9]. Lihat Fikih Tradisionalisme, Muhyiddin Abdusshomad (277-278)
[10]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari : 3/187, no : 2731, 2732, al-Fath 5/388.
[11]. Shahih diriwayatkan Imam Bukhâri dalam Shahihnya (3043) dan Imam Muslim
dalam Shahihnya (1768)
[12]. Lihat Minhaj Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi, juz XII, hal. 313.
[13]. Lihat Ikmalil Mua'lim Bi Syarah Shahih Muslim, Qadhi Iyadh, 6/ 105.
[14]. Shahaih diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya (3445)
[15]. Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih
(2042) dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Ghayatul Mar'am : 125
[16]. Shahih, dishahihkan Oleh Albani dalam Ghayatul Mar'am 127, lihatlah
takhrij beliau di dalamnya.
[17]. Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya (2679) dan Imam
Muslim dalam Shahihnya (1646)
[18]. Shahih, diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya (3545), Imam
Ahmad dalam Musnadnya 2/254, dan dishahihkan oleh Albani dalam irwa' : 6
[19]. Shahih diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam Sunannya (3546), Imam
Ahmad dalam Musnadnya 1/201 dan dishahihkan Albani dalam irwa' : 5
[20]. Shahih diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (284).
[21]. Majma'atul Mawalid(101).
[22]. Lihat perinciannya dalam kitab Mahabbatur Rasulullsh oleh Abdur Rauf
Utsman (169-192).
[23]. Insya Allah, untuk lebih jelasnya akan penulis sampaikan dalam
buku Ritual Tradisional. Semoga Allah memudahkan penulisan buku ini
yang memuat 40 bid'ah populer di kalangan kaum tradisional di Indonesia
yang meliputi, Shalawatan, Barzanjian, Daibaan, Yasinan, Tahlilan,
Ratiban, Manaqiban, Rajaban, Sya'banan, Selamatan dan bid'ah-bid'ah
lain.
_________________________________________________________________

Kamis, 01 September 2011

SEHARUSNYA KITA SELALU MENANGIS

Pernahkah Anda menangis -dalam keadaan sendirian- karena takut siksa Allâh Ta’ala? Ketahuilah, sesungguhnya hal itu merupakan jaminan selamat dari neraka. Menangis karena takut kepada Allâh Ta’ala akan mendorong seorang hamba untuk selalu istiqâmah di jalan-Nya, sehingga akan menjadi perisai dari api neraka. Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
hadist
“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis
karena takut kepada Allâh sampai air susu kembali ke dalam teteknya.
Dan debu di jalan Allâh tidak akan berkumpul dengan asap neraka Jahannam”.
[1]

MENGAPA HARUS MENANGIS?

Seorang Mukmin yang mengetahui keagungan Allâh Ta’ala dan hak-Nya, setiap dia melihat dirinya banyak melalaikan kewajiban dan menerjang larangan, akan khawatir dosa-dosa itu akan menyebabkan siksa Allâh Ta’ala kepadanya.

Nabi Muhammad Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
hadist
"Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya
seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung,
dia khawatir gunung itu akan menimpanya.
Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya
seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya,
dia mengusirnya dengan tangannya –begini–, maka lalat itu terbang”.
(HR. at-Tirmidzi, no. 2497 dan dishahîhkan oleh al-Albâni rahimahullâh)

Ibnu Abi Jamrah rahimahullâh berkata,
“Sebabnya adalah, karena hati seorang Mukmin itu diberi cahaya. Apabila dia melihat pada dirinya ada sesuatu yang menyelisihi hatinya yang diberi cahaya, maka hal itu menjadi berat baginya. Hikmah perumpamaan dengan gunung yaitu apabila musibah yang menimpa manusia itu selain runtuhnya gunung, maka masih ada kemungkinan mereka selamat dari musibah-musibah itu. Lain halnya dengan gunung, jika gunung runtuh dan menimpa seseorang, umumnya dia tidak akan selamat. Kesimpulannya bahwa rasa takut seorang Mukmin (kepada siksa Allâh Ta’ala -pen) itu mendominasinya, karena kekuatan imannya menyebabkan dia tidak merasa aman dari hukuman itu. Inilah keadaan seorang Mukmin, dia selalu takut (kepada siksa Allâh-pen) dan bermurâqabah (mengawasi Allâh). Dia menganggap kecil amal shalihnya dan khawatir terhadap amal buruknya yang kecil”.
(Tuhfatul Ahwadzi, no. 2497)

Apalagi jika dia memperhatikan berbagai bencana dan musibah yang telah Allâh Ta’ala timpakan kepada orang-orang kafir di dunia ini, baik dahulu maupun sekarang. Hal itu membuatnya tidak merasa aman dari siksa Allâh Ta’ala.

Allâh Ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan begitulah adzab Rabbmu apabila Dia mengadzab
penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim.
Sesungguhnya adzab-Nya sangat pedih lagi keras.
Sesungguhnya pada peristiwa itu benar-benar terdapat pelajaran
bagi orang-orang yang takut kepada adzab akhirat.
Hari Kiamat itu adalah suatu hari
dimana manusia dikumpulkan untuk (menghadapi)-Nya,
dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk).
Dan Kami tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu.
Saat hari itu tiba, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya;
maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia.
Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka,
di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih)
”.
(Qs Hûd/11:102-106)

Ketika dia merenungkan berbagai kejadian yang mengerikan pada hari Kiamat, berbagai kesusahan dan beban yang menanti manusia di akhirat, semua itu pasti akan menggiringnya untuk takut kepada Allâh Ta’ala al-Khâliq.

Allâh Ta’ala berfirman yang artinya:
“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu.
Sesungguhnya kegoncangan hari Kiamat itu
adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
(Ingatlah), pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu,
semua wanita yang menyusui anaknya lalai terhadap anak yang disusuinya,
dan semua wanita yang hamil gugur kandungan.
Kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk,
padahal sebenarnya mereka tidak mabuk.
Akan tetapi adzab Allâh itu sangat keras
”.
(Qs al-Hajj/22:1-2)

Demikianlah sifat orang-orang yang beriman. Di dunia, mereka takut terhadap siksa Rabb mereka, kemudian berusaha menjaga diri dari siksa-Nya dengan takwa, yaitu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka, Allâh Ta’ala memberikan balasan sesuai dengan jenis amal mereka. Dia memberikan keamanan di hari Kiamat dengan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya.

Allâh Ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan sebagian mereka (penghuni surga-pent) menghadap
kepada sebagian yang lain; mereka saling bertanya.
Mereka mengatakan:
“Sesungguhnya kami dahulu sewaktu berada di tengah-tengah keluarga,
kami merasa takut (akan diadzab)”.
Kemudian Allâh memberikan karunia kepada kami
dan memelihara kami dari azab neraka.
Sesungguhnya kami dahulu beribadah kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang
”.
(Qs ath-Thûr/52:25-28)

ILMU ADALAH SEBAB TANGISAN KARENA ALLÂH TA'ALA

Semakin bertambah ilmu agama seseorang, semakin tambah pula takutnya terhadap keagungan Allâh Ta’ala.
Allâh Ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan demikian (pula) di antara manusia,
binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak,
ada yang bermacam-macam warna (dan jenisnya).
Sesungguhnya yang takut kepada Allâh di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah Ulama.
Sesungguhnya Allâh Maha Perkasa lagi Maha Pengampun
”.
(Qs Fâthir/35:28)

Nabi Muhammad Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
hadist
“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku,
maka aku tidak melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini.
Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui,
kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis
”.
Anas bin Mâlik radhiyallâhu'anhu –perawi hadits ini- mengatakan,
“Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu.
Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan
”.
(HR. Muslim, no. 2359)

Imam Nawawi rahimahullâh berkata,
“Makna hadits ini, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sama sekali melebihi apa yang telah aku lihat di dalam surga pada hari ini. Aku juga tidak pernah melihat keburukan melebihi apa yang telah aku lihat di dalam neraka pada hari ini. Seandainya kamu melihat apa yang telah aku lihat dan mengetahui apa yang telah aku ketahui, semua yang aku lihat hari ini dan sebelumnya, sungguh kamu pasti sangat takut, menjadi sedikit tertawa dan banyak menangis”.
(Syarh Muslim, no. 2359)

Hadits ini menunjukkan anjuran menangis karena takut terhadap siksa Allâh Ta’ala dan tidak memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa menunjukkan kelalaian dan kerasnya hati.

Lihatlah para Sahabat Nabi radhiyallâhu'anhum, begitu mudahnya mereka tersentuh oleh nasehat! Tidak sebagaimana kebanyakan orang di zaman ini. Memang, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, paling banyak pemahaman agamanya, paling cepat menyambut ajaran agama. Mereka adalah Salafus Shâlih yang mulia, maka selayaknya kita meneladani mereka.
(Lihat Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhus Shâlihin 1/475; no. 41)

Seandainya kita mengetahui bahwa tetesan air mata karena takut kepada Allâh Ta’ala merupakan tetesan yang paling dicintai oleh Allâh Ta’ala, tentulah kita akan menangis karena-Nya atau berusaha menangis sebisanya. Nabi Muhammad Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjelaskan keutamaan tetesan air mata ini dengan sabda Beliau:
hadist
“Tidak ada sesuatu yang yang lebih dicintai oleh Allâh
daripada dua tetesan dan dua bekas.
Tetesan yang berupa air mata karena takut kepada Allâh
dan tetesan darah yang ditumpahkan di jalan Allâh.
Adapun dua bekas, yaitu bekas di jalan Allâh
dan bekas di dalam (melaksanakan) suatu kewajiban
dari kewajiban-kewajiban-Nya
”.

Namun yang perlu kita perhatikan juga bahwa menangis tersebut adalah benar-benar karena Allâh Ta’ala, bukan karena manusia, seperti dilakukan di hadapan jama’ah atau bahkan dishooting TV dan disiarkan secara nasional. Oleh karena itu Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjanjikan kebaikan besar bagi seseorang yang menangis dalam keadaan sendirian. Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
hadist
“Tujuh (orang) yang akan diberi naungan oleh Allâh
pada naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. ......
(di antaranya): Seorang laki-laki yang menyebut Allâh
di tempat yang sepi sehingga kedua matanya meneteskan air mata
”.
(HR. al-Bukhâri, no. 660; Muslim, no. 1031)

Hari Kiamat adalah hari pengadilan yang agung. Hari ketika setiap hamba akan mempertanggung-jawabkan segala amal perbuatannya. Hari saat isi hati manusia akan dibongkar, segala rahasia akan ditampakkan di hadapan Allâh Yang Maha Mengetahui lagi Maha Perkasa. Maka kemana orang akan berlari? Alangkah bahagianya orang-orang yang akan mendapatkan naungan Allâh Ta’ala pada hari itu. Dan salah satu jalan keselamatan itu adalah menangis karena takut kepada Allâh Ta’ala.

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullâh berkata,
“Wahai saudaraku, jika engkau menyebut Allâh Ta’ala, sebutlah Rabb-mu dengan hati yang kosong dari memikirkan yang lain. Jangan pikirkan sesuatu pun selain-Nya. Jika engkau memikirkan sesuatu selain-Nya, engkau tidak akan bisa menangis karena takut kepada Allâh Ta’ala atau karena rindu kepada-Nya. Karena, seseorang tidak mungkin menangis sedangkan hatinya tersibukkan dengan sesuatu yang lain. Bagaimana engkau akan menangis karena rindu kepada Allâh Ta’ala dan karena takut kepada-Nya jika hatimu tersibukkan dengan selain-Nya?".

Oleh karena itu, Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Seorang laki-laki yang menyebut Allâh di tempat yang sepi”,
yaitu hatinya kosong dari selain Allâh Ta’ala,
badannya juga kosong (dari orang lain),
dan tidak ada seorangpun di dekatnya
yang menyebabkan tangisannya menjadi riyâ’ dan sum’ah.
Namun, dia melakukan dengan ikhlas dan konsentrasi
”.
(Syarh Riyâdhus Shâlihîn 2/342, no. 449)

Setelah kita mengetahui hal ini, maka alangkah pantasnya kita mulai menangis karena takut kepada Allâh Ta’ala.
Wallâhul Musta’ân.
[1]
HR. at-Tirmidzi, no. 1633, 2311; an-Nasâ‘i 6/12; Ahmad 2/505; al-Hâkim 4/260; al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 14/264.
Syaikh Salîm al-Hilâli hafizhahullâh mengatakan, “Shahîh lighairihi”. Lihat penjelasannya dalam kitab Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhus Shâlihîn 1/517; no. 448)

Kesamaan Para Penentang Dakwah Rasul

Allâh Ta'âla mengutus para rasul-Nya dengan tugas yang sama, menyeru manusia agar beribadah kepada Allâh Ta'âla semata dan menjauhi thâghût.
Allâh Ta'âla berfirman:
(Qs an-Nahl/16:36)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul
pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
“Sembahlah Allâh (saja), dan jauhilah thâghût”,
maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allâh Ta'âla
dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.
Maka, berjalanlah kamu di muka bumi
dan perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

(Qs an-Nahl/16:36)
Dakwah para rasul ini merupakan seruan menuju hikmah diciptakannya manusia di dunia ini, sebagaimana firman-Nya:
(Qs adz-Dzâriyât/51:56)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.

(Qs adz-Dzâriyât/51:56)

Maksudnya, Allâh Ta'âla menciptakan mereka (jin dan manusia) untuk beribadah kepada-Nya semata dan menjauhi peribadahan kepada selain-Nya.

SEMUA UMAT MENENTANG DENGAN ALASAN YANG SAMA
Semua umat menentang dakwah para rasul yang mulia dengan hujjah (argumen) yang sama, yaitu mengikuti kebiasaan nenek moyang mereka. Dahulu, orang-orang jahiliyah di Mekah –di zaman Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam– melakukan perbuatan syirik dengan tanpa bukti, tanpa petunjuk, dan tanpa argumen yang nyata, maka Allâh Ta'âla berfirman mengingkari mereka:[1]
(Qs az-Zukhruf/43:21-22)
Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum al-Qur‘ân,
lalu mereka berpegang dengan kitab itu?
Bahkan mereka berkata:
“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama,
dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk
dengan (mengikuti) jejak mereka.”

(Qs az-Zukhruf/43:21-22)

Inilah alasan perbuatan syirik mereka, yaitu mengikuti jejak nenek moyang. Oleh karena itu, Allâh Ta'âla menjelaskan bahwa alasan mereka itu juga merupakan alasan semua orang kafir pada zaman dahulu:
(Qs az-Zukhruf/43:23)
Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu
seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri,
melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata:
“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama
dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.”

(Qs az-Zukhruf/43:23)

ARGUMEN KAUM NUH ‘ALAIHISSALAM
Nabi Nuh 'alaihissalam adalah rasul pertama kali yang diutus Allâh Ta'âla di muka bumi. Kaum beliau adalah orang-orang musyrik pertama kali di dunia ini. Beliau menyeru umat beliau untuk mengesakan ibadah hanya bagi Allâh Ta'âla semata, sebagaimana firman-Nya:
(Qs al-Mukminûn/23:23)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh 'alaihissalam kepada kaumnya,
lalu ia berkata:
“Hai kaumku, sembahlah Allâh,
(karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia.
Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”

(Qs al-Mukminûn/23:23)

Namun kaumnya mengingkari kerasulan beliau, dengan alasan bahwa mereka tidak pernah mendengar seruan Nabi Nûh 'alaihissalam itu pada masa nenek moyang mereka.
Allâh Ta'âla berfirman memberitakan hal ini:
(Qs al-Mukminûn/23:24)
Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab:
“Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu,
yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu.
Dan kalau Allâh menghendaki,
tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat.
Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini
pada masa nenek moyang kami yang dahulu”.

(Qs al-Mukminûn/23:24)

ARGUMEN SUKU ‘AD, KAUM NABI HUD ‘ALAIHISSALAM
Setelah kehancuran kaum Nabi Nûh 'alaihissalam, manusia menjadi banyak kembali. Muncul kemusyrikan pada suku ‘Ad, maka Allâh Ta'âla mengutus Nabi Hûd 'alaihissalam:
(Qs al-A’râf/7:65)
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hûd.
Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allâh,
sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya.
Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”

(Qs al-A’râf/7:65)

Kemudian lihatlah bantahan suku ‘Ad ini kepada Nabinya, mereka berargumen membela perbuatan syirik mereka dengan kebiasaan nenek moyang mereka!
(Qs al-A’râf/7:70)
Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami,
agar kami hanya menyembah Allâh saja dan
meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?
Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami
jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”

(Qs al-A’râf/7:70)

ARGUMEN SUKU TSAMUD, KAUM NABI SHALIH ‘ALAIHISSALAM
Demikian juga suku Tsamûd, mereka melakukan syirik dengan sebab taqlîd kepada nenek moyang mereka. Dengan hikmah-Nya, Allâh Ta'âla mengutus Nabi Shâlih 'alaihissalam kepada mereka:
Dan kepada Tsamûd (Kami utus) saudara mereka Shâleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allâh, sekali-kali tidak ada bagimu tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah)dan menjadikan kamu pemakmurnya,karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya tuhanku amat dekat lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Qs Hûd/11:61)

Namun bagaimana sikap suku Tsamûd? Mereka tidak berbeda dengan para pendahulu mereka sesama orang-orang kafir. Mereka menentang dakwah Nabi Shâlih 'alaihissalam dengan alasan mengikuti nenek moyang!
(Qs Hûd/11:62)
Kaum Tsamûd berkata:
“Hai Shâlih, sesungguhnya sebelum ini kamu
adalah seorang di antara kami yang kami harapkan,
apakah kamu melarang kami untuk menyembah
apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?
dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan
terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.”

(Qs Hûd/11:62)

ARGUMEN KAUM IBRAHIM ‘ALAIHISSALAM
Allâh Ta'âla berfirman mengisahkan dakwah Nabi Ibrâhîm 'alaihissalam kepada bapaknya dan kaumnya:
(Qs al-Anbiyâ’/21:51-52)
Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrâhîm
hidayah kebenaran sebelum (Mûsa dan Hârûn)
dan Kami mengetahui (keadaan)nya.
(Ingatlah), ketika Ibrâhîm berkata kepada bapaknya dan kaumnya:
“Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?”

(Qs al-Anbiyâ’/21:51-52)

Maka apakah jawaban mereka kepada Nabi Ibrâhîm?
(Qs al-Anbiyâ’/21:53)
Mereka menjawab:
“Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.”

(Qs al-Anbiyâ’/21:53)

Mendengar jawaban klasik tersebut, dengan tegas Nabi Ibrâhîm memvonis mereka dengan kesesatan yang nyata.
(Qs al-Anbiyâ’/21:54)
Ibrâhîm 'alaihissalam berkata:
“Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata.”

(Qs al-Anbiyâ’/21:54)

ARGUMEN KAUM SYU’AIB ‘ALAIHISSALAM
Kaum yang lain adalah kaum Nabi Syu’aib 'alaihissalam di Madyan, Allâh Ta'âla berfirman:
(Qs Hûd/11:84)
Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib 'alaihissalam .
Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allâh Ta'âla ,
sekali-kali tiada tuhan bagimu selain Dia.
Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan,
sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu)
dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).”
(Qs Hûd/11:84)
Bantahan mereka serupa dengan orang-orang kafir sebelumnya.
Mereka berkata: “Hai Syu’aib,
apakah shalatmu (agamamu) menyuruh kamu agar kami
meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami
atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki pada harta kami.
Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.”

(Qs Hûd/11:87)

KEADAAN KAUM NABI YUSUF ‘ALAIHISSALAM
Nabi Yûsuf 'alaihissalam diutus kepada bangsa Mesir. Beliau sudah memulai dakwah ketika berada di dalam penjara. Beliau mengingatkan kawannya di penjara bahwa kemusyrikan yang dilakukan oleh bangsa Mesir waktu itu hanyalah dibuat oleh mereka sendiri dan nenek moyang mereka.
Allâh Ta'âla mengisahkan perkataan beliau 'alaihissalam :
(Qs Yûsuf/12:39-40)
Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik,
tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu
ataukah Allâh Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?
Kamu tidak menyembah yang selain Allâh kecuali hanya
(menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.
Allâh tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu.

(Qs Yûsuf/12:39-40)

ARGUMEN KAUM NABI MUSA ‘ALAIHISSALAM
Nabi Mûsa 'alaihissalam dan Nabi Hârûn 'alaihissalam juga diutus kepada bangsa Mesir selain kepada Bani Israil.
Allâh Ta'âla berfirman tentang keduanya:
(Qs Yûnus/10:75)
Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Mûsa dan Hârûn
kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya,
dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami,
maka mereka menyombongkan diri
dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.

(Qs Yûnus/10:75)

Namun ternyata Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya menolak dakwah kedua Rasul mulia itu dengan argumen yang sama seperti orang-orang kafir yang lain.
(Qs Yûnus/10:78)
Mereka berkata:
“Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami
dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya,
dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi?
Kami tidak akan mempercayai kamu berdua.”

(Qs Yûnus/10:78)

ARGUMEN KAUM NABI MUHAMMAD SHALLALLÂHU 'ALAIHI WASALLAM
Rasul terakhir yang Allâh Ta'âla utus di dunia ini mengalami hal yang sama. Kaum Quraisy lebih memilih mengikuti nenek moyang mereka daripada mengikuti petunjuk Allâh Ta'âla .
Allâh Ta'âla berfirman:
(Qs Luqmân/31:21)
Dan apabila dikatakan kepada mereka:
“Ikutilah apa yang diturunkan Allâh.”
Mereka menjawab: “(Tidak),
tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati
bapak-bapak kami mengerjakannya.”
Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka)
walaupun syaitan itu menyeru mereka
ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?

(Qs Luqmân/31:21)

Bahkan tokoh-tokoh Qurasiy berusaha menghalangi keislaman Abu Thâlib, paman Nabi, dengan argumen mengikuti agama orang tuanya. Maka akhirnya, Abu Thâlib lebih memilih kekafiran daripada keimanan. Hal ini dikisahkan di dalam hadits berikut ini:
hadits
Dari Sa’îd bin al-Musayyab, dari bapaknya, dia berkata:
“Ketika kematian mendatangi Abu Thâlib,
Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam menjenguknya.
Beliau mendapati Abu
Jahal dan `Abdullâh bin Abi Umayyah bin al-Mughîrah di dekat Abu Thâlib.
Beliau berkata: “Wahai pamanku, katakanlah Lâ ilâha illallâh,
sebuah kalimat yang aku akan berhujjah dengannya untukmu di sisi Allâh Ta'âla !”
Abu Jahal dan Abdullâh bin Abi Umayyah mengatakan:
“(Wahai Abu Thâlib) apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?”.
Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam terus-menerus
menawarkan kalimat itu kepadanya,
dan keduanya juga mengulangi perkataan tersebut.
Sehingga akhir perkataan yang dikatakan Abi Thâlib kepada mereka
bahwa dia di atas agama Abdul Muththalib.
Dia enggan mengatakan Lâ ilâha illallâh.”
(HR. Bukhâri no. 4772; Muslim no. 24)

Demikian pula, setelah beliau berhijrah ke Madinah. Orang-orang Yahudi yang termasuk umat dakwah beliau shallallâhu 'alaihi wasallam, lebih memilih mengikuti nenek moyang mereka daripada mengikuti petunjuk yang beliau bawa dari Allâh Ta'âla .
(Qs al-Baqarah/2:170)
Dan apabila dikatakan kepada mereka:
“Ikutilah apa yang telah diturunkan Allâh Ta'âla ,”
mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti
apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”.
“(Apakah mereka akan mengikuti juga),
walaupun nenek moyang mereka itu tidak
mengetahui suatu apapun,
dan tidak mendapat petunjuk?”

(Qs al-Baqarah/2:170)

PENUTUP
Setelah kita mengetahui sikap para umat terhadap para rasul mereka, yang menentang al-haq dengan argumen mengikuti nenek moyang, maka tidak heran betapa banyak masyarakat sekarang yang menolak al-haq dengan argumen tradisi orang tua, warisan leluhur, adat kebiasaan suku, atau semacamnya.
Namun yang aneh ada sebagian kaum Muslimin yang mengikuti pola pikir jahiliyah ini dan meninggalkan al-Kitab dan Sunnah, padahal hujjah
telah datang kepada mereka. Maka dengan sedikit tulisan ini, semoga menyadarkan kita bahwa nilai kebenaran itu ukurannya adalah wahyu yang dibawa Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam dengan wujud al-Kitab dan Sunnah, dengan pemahaman yang benar dari para ulama Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah. Dan kita tidak boleh menentangnya dengan ajaran dari guru, tokoh, nenek moyang, atau lainnya. Wallâhul Musta’ân.

RUJUKAN:
  1. Mu’jamul Mufahras li Alfâzhil Qur’ân, Syaikh Muhammad Fuâd Abdul Bâqi
  2. Muqaddimah tahqîq kitab Tath-hîrul I’tiqâd dan Syarhus Shudûr, syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbâd
  3. Tafsir Ibnu Katsîr
  4. Shahih Bukhari
  5. Shahih Muslim
  6. Dan lain-lain


[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsîr pada surat az-Zukhruf, ayat 21


Selasa, 30 Agustus 2011

PENETAPAN 1 SYAWAL 1432 H/ 2011 M



- Setelah membaca informasi secara online di muhammadiyah.or.id, bahwa Awal Puasa Ramadhan 2011 atau 1 Ramadhan 1432 H versi Muhammadiyah adalah jatuh pada tanggal hari senin legi, 1 Agustus 2011 M sedangkan 1 Syawwal jatuh pada hari selasa kliwon, 30 Agustus 2011 M.

Keputusan 1 Ramadhan 1432  oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah didasarkan atas hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani Majelis Tarjih dan Tarjid Pimpinan Pusat Muhamadiyah.

Sedangkan untuk penetapan tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 28 Oktober 2011 dan Idul Adha jatuh pada tanggal 6 November 2011.

Demikian hasil Pengumuman 1 Ramadhan 1432 H, 1 syawal 1432 H langsung dari Majelis Tarjih PP Muhammadiyah. Untuk keterangan jelasnya,  (Pengumuman Majelis PP Muhammadiyah).

Pada kesempatan ini pula, saya selaku author Blog GUS ROY, turun mengucapkan, "..Selamat Menjalankan Ibada Syaum Untuk Semua Umat Islam Indonesia dan Dunia, Semoga Syaum Kali Ini Diterima Allah SWT.."

Tips saat berbuka puasa : Setelah adzan magrib, basahi dengan air putih, makan 7 buah Kurma, setelah itu Solat, baru makan besar ya! Jangan langsung makan besar, kurang baik untuk lambung.. Hehehe#Semoga berguna..

Update info :
Berdasarkan hasil sidang Isbat, pukul 19.00 tanggal 29 Agustus 2011, tentang Penetapan i syawal 1423 H, pemerintah / NU menetapkan 1 syawal 1432 H adalah tanggal 31 Agustus 2011 (Hari Rabu), terima kasih

KAMI MENGUCAPKAN
Taqoballallohu minna wa minkum....

Sabtu, 27 Agustus 2011

POTRET MUDA MUDI ISLAM MASA KINI

            Zaman sebelum kedatangan risalah Muhammad SAW di sebut zaman jahiliyah. Suatu zaman dimana kehidupan manusia cenderung di warnai dengan kekuasaan hawa nafsu.
Merajalelanya kesyirikan,rendahnya moralitas dan rusaknya ahlak serta banyaknya kemaksiatan merupakan bukti nyata potret kehidupan umat zaman jahiliyahsaat itu. Nilai nilai manusiawi seperti kejujuran,keadilan,amanat,tumbuhnya jiwa kasih sayang,kehormatan atau kesucian diri serta nilai nilai kebaikan lain serupa,semua hancur porak poranda di sebabkan karena kepongahan dan kekuasaan hawa nafsu.
Para pedagang dengan bangga dan tidak ada rasa takut mengecoh,mengurangi takaran timbangannya semata mata karena serakah,rakus terhadap keuntungan atau kenikmatan yang sifatnya hny sementara. Mereka yg di pegang mempercaya jabatan dan kekuasaan lebih suka mengabaikan tugas amanatnya,dengan rasa gembira mereka menerima uang haramyang bukan haknya,menerima suapan untuk memenangkan perkara si penyuap daripada berlaku adil dengan mengembalikan hak kepada pemiliknya. Seorang suami lebih senang menggagahi istri teman dan tetangganya,begitu pula wanita lebih mengutamakan nafsu biologis daripada kesucian atau kehormatan dirinya. Mereka tanpa menanggung beban rasa malu sedikitpun rela bergelimang dosa dalam perbuatan zina.
Rasulullah SAW bersabda :"neraka itu dihiasi dengan sesuatu yang menyenangkan hawa nafsu,sedang syurga itu di tutupi dengan sesuatu yang di benci dan tidak di sukai"
(HR Bukhari-Muslim)
             Wahai saudaraku kemajuan ilmu pengetahuan,tehnologiy dan budaya membawa dampak pengaruh kepada kehidupan manusia di zaman modern ini. Tidak luput sasaran dampak modernisasi akan membawa perubahan umat islam,lebih lebih muda mudi islam. Maka janganlah anda heran,bila sekian banyak muda mudi islam masa kini terseret arus akibat imbas kemajuan budaya baratyang di kemas dan di bungkus sedemikian rapi,menarik dengan istilah modernisasi. Padahal budaya tersebut tidak semuanya positif,lebih lebih kalau di tinjau dari ajaran Islam. Muda mudi Islam masa kini memiliki kecenderungan untk mengaca dan mengekor saja kepada kebebasan budaya barat yang mendasarkan pola pikir dan perilakunya kepada kehidupan ala jahiliyah. Musuh musuh Allah yang anti kpd ajaran Islam,dengan dukungan tehnologi dansarana yg serba canggihdan modern,berusaha keras dgn berbagai cara agar umat Islam ini meninggalkan dan jauh dari ajaran I slam. Firman Allah: "Mereka ingin kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, menjadi sama dengan mereka "( Q.S An Nissa':89 )
              Saudaraku bisa dikatakan sekarang ini kita hidup di tengah tengah jaman jahiliyah modern. Mereka para pelaku kemaksiatan,pelanggaran,kerusakan dan perbuatan dosa di dukung dengan tehnologi,sarana dan prasarana yg serba canggih dan modern. Derasnya arus budaya barat yg jauh dari cerminan ajaran Islam,begitu cepat dan mudah masuk mempengaruhi pergaulan muda mudi Islam. Dalam persepsi mereka,kebebasan pergaulan muda mudi,sekarang semakin di gandrungi sebagaimana kita saksikan di jalan jalan umum,di tempat rekkreasi dan taman taman hiburan dan sebagainya. Mereka dgn banggamenyambut pakaian mini yg mempertontonkan aurat,yang menampakan lekuk lekuk tubuhnya,betis,dada,lutut dan pahanya. Para muda mudi masa kini mendakwahkan bahwa kerudung atau pakaian muslimah merupakan belenggu kebebasan. Mereka tlh termakan oleh faham modernisasi yang menganggap ajaran Islam dengan keterbelakangan. Padahal pakaian mini yg mempertontonkan aurat justru banyak membawa wanita trejermbab dalam kepongahan lelaki hidung belang. Allah SWT memperingatkan dlm Firman Nya:"Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya da memelihara kemaluanya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya, dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,"( Q.S An Nuur:31 )
                Ajaran Islam menggaris tegas dgn batas yg jelas dalam pergaulan muda mudi demi menjaga harkat dan martabat kehormatannya. Pandang memandang diantara merekapun di atur,dengan saling menundukan pandangan mereka karena Allah semata. Seorang pemuda Islam menyadari sepenuhnya bahwa fitnah atau cobaan trbesar dan membahayakan dirinya adalah wanita. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :"Tidak ada fitnah yang paling membahayakan bagi kaum lelaki sesudah zamanku,kecuali fitnah wanita."( HR. Bukhari-Muslim )
                Allah SWT mengutus Muhammad Rasulullah dengan risalah-Nya,yakni menurunkan agama Islam di muka bumi untuk mengatur kehidupan manusia agar memahami tugas,kewajiban dan kedudukannya sesuai dengan petunjuk Nya. Maka Insya Allah hanya dengan kembali dan mengamalkan ajaran Islam,kehidupan manusia umat Islam khususnya muda mudi Islam akan dapat tertata dengan baik dan selamat dunia dan akhiratnya.
Aamiiiiinnnnn................!!!!!           

 
Powered by Blogger